--- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice --- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice ---
RSS
Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Sunday, June 22, 2014

Hard May

Hi readers!
Lama tak jumpaaa ;)

Akhirnya setelah sekian lama gue disibukkan oleh aktivitas Duta, gue bisa kembali menyapa Dumay.
Sumpah, gue capek banget sama tekanan dan kewajiban gue sebagai pelajar. Tapi tetep gue jalani dengan hati yang lapang.
Selama berbulan-bulan gue mesti berhadapan dengan soal-soal dan bacaan.
Berangkat pagi pulang sore demi ujian nasional.
Bahkan gue sempet ngedrop juga.

 14 April 2014
Akhirnya gue dan temen-temen pun berjuang di medan perang.
Soal-soalnya ituu oh em gee bangettt.. Soal-soal bertaraf internasional disuguhkan pada kami.
Selain dibedakan dalam 20 paket soal, soal juga menggunakan QR code.
Ya ampunn, sebegitu ketatnyaa..
Tapi tetep aja, penjualan kunci jawaban dimana-mana.
Gue heran. Tapi gue tetep berjuang tanpa kunci itu kok.

Tapi, gue sebagai pelajar yang berjuang yang dirundung sedih, pusing, frustasi menghadapi soal ujian, merasa tidak adil oleh perlakuan menteri pendidikan.
Padahal gue nyoba soal-soal ujian nasional tahun lalu, itu tarafnya mudah.
Hla pas tahun gue, soalnya dibikin bertaraf internasional. OMG!



 

Nih respon temen-temen seperjuangan..
Tuhkan!
Soal olimp internasional jadi penentu kelulusan. Gimana coba?

Kimia. Entah kenapa, pelajaran itu berasa paling susah di gue sejak dulu.
Sehingga soal internasional kimia berasa paling menyayat otak banget.
Gue frustasi dan pasrah.
Selesai ngerjain, pas pulangnya, air matapun menetes. Gue takut nggak lulus gegara kimia.


 10 Mei 2014
 Gue pisah sama doi. *gak penting*

 14 Mei 2014
Doi udah jadian sama cewe lain.
Hati gue teriris menyadari takdir bahwa gue digantikan secepat itu. Bahkan kemungkinan, gue pisah karena dia lebih milih cewe itu.

 20 Mei 2014
Gue dag dig dug nunggu hasil pengumuman. Gue yang masih galau karena mantan, memutuskan nunggu hasil di rumah. Bukan di sekolah kaya temen-temen gue. Gue nggak terpuruk kok, gue cuman males kalo tiba-tiba ketemu doi.
Pukul lima sore, mama belum juga pulang. Gue panik, cemas, khawatir, campur aduk. Padahal pas smp gue nggak sekhawatir ini.
Dan mama yang membawa amplop putih dari sekolahpun datang.
GUE LULUUUUSSSS
Rasanya tuh legaaa banget. Mama juga sempet nyatet nilai UN gue.
Skhu belum keluar soalnya. Jadi kalau mau tahu nilai, harus nyatet sendiri yang ada di daftar nilai UN punya walikelas.
Gue yang tadinya berbunga-bunga mendadak syok.
Nilai kimia gue ancurrr.
Jumlah total nilai gue jadi jelek gegara terkontaminasi sama nilai kimia.
Gue pengen nangis. Tapi gue berusaha tegar.
Gue nasehatin diri gue sendiri, 'yang penting lulus.'

27 Mei 2014
Menuju tengah hari, gue udah mantengin laptop buat nunggu pengumuman snmptn.
Gue takut banget. Pasalnya prodi yang gue ambil ternyata jadi prodi teramai peminatnya nomor 4 se-Indonesia. Bahkan di sekolah gue udah ada 4 anak yang sama ambil prodi+univnya.
Pukul 12.00 tepat. Gue langsung menuju web snmptn.
To the point aja, Gue kurang beruntung.
Lagi-lagi, gue nahan diri buat nggak nangis. Gue berusaha tegar.
Tapi, rasanya sakiiittt banget itu pas di sosmed, temen-temen yang lolos langsung update status tentang keberhasilannya. Foto-foto hasil screencapture kalau mereka nggak bohong, dan emang lolos snmptn.
Gue ikut seneng sama keberhasilan mereka. Gue seneng. Tapi, gimanapun juga, rasanya tetep sakit.
Nggak bisakah nggak perlu pamerin keberhasilan kalian gitu? Kan kasian yang pada nggak lolos..
Well, mereka nggak salah. Guenya aja mungkin yang terlalu sensi.
Padahal gue pengen banget masuk komunikasi.
Yahh... meskipun gue lintas jurusan. Tapi gue dengeer-denger temen-temen sekolah gue yg pada ambil komunikasi, semuanya gagal.
Sedih banget kan...

Malemnya, air mata gue tumpah.
Gue nangis berjam-jam di atas tempat tidur.
Air mata yang udah gue bendung sejak kemarin, sejak tanggal 10 Mei akhirnya banjir juga.
Gue pikir, gue udah cukup kuat. Tapi sepertinya gue rapuh.
Gue cengeng.
Gue juga ngecewain ortu gue dengan kegagalan gue.

29 Mei 2014
Cobaan belum selesai. Gue nginep di rumah sakit dan harus menjalani operasi.
Bukan operasi berat, tapi tetep namanya operasi dan serius.
Hari itu adalah operasi gue yang kedua kalinya.
Gue berusaha tegar lagi.
Meskipun gue ngerasa, bulan Mei tahun ini, jadi bulan yang berat banget buat hidup gue.

Tiba-tiba gue keinget status gue di bulan April...



Maksudnya karena di bulan Mei bakal ada pengumuman kelulusan dan juga, anniversary gue sama doi.
Iya, status itu gue buat sebelum gue tau, kalo nilai kimia gue ancur.
Sebelum gue tau kalo gue bakal gagal snmptn.
Sebelum gue tau kalo percintaan gue bakal berakhir.
Sebelum gue tau kalo gue bakal dioperasi.

But..
At least, gue bisa jadi pribadi yang lebih kuat dan tegar.
Bismillah..
Sbmtpn gue ketrima :) aamiin.

Thursday, January 23, 2014

Angin, Hujan, dan Sakit Hati

Kenapa ada angin?
Agar orang-orang tahu kalau ada udara di sekitarnya.
Tiap detik kita menghirup udara, kadang lupa sedang bernafas.

Tiap detik kita berada dalam udara, lebih sering tidak menyadarinya.

Angin memberi kabar bagi para pemikir
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa dipegang.

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham kalau ada langit di atas sana
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering mengabaikan

Hujan memberi kabar bagi para pujangga
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya

Begitulah kehidupan.
Ada banyak pertanda bagi orang yang mau memikirkannya.

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli
Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia
Sungguh, tidak ada hewan, binatang yang bisa sakit hati
Apalagi batu, kayu, tanah, tiada pernah sakit hati

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum, ada udara di sekitar kita.

Maka mendongaklah menatap ke atas, tatap bulan gemintang atau langit biru bersaput awan..
Lantas mengangguk takjim, ada langit di sana.

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya..
Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia.

* Tere Liye

Saturday, September 7, 2013

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part IV



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part IV

Namun hari ini, sekitar dua tahun lebih setelah operasi, aku merasakan kecemasan pada diriku. Aku merasa melakukan banyak kesalahan selama masa sembuhku itu.

Rasa mengganggu yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.

Ya Tuhan :"(((

Apakah itu benar-benar kembali? Aku takut. Aku tidak mau mengalami pengalaman buruk itu lagi. Apakah ini karena aku tidak menjalani suntik kekebalan itu? Atau apakah ini karma karena aku tidak pandai bersyukur atas kesembuhanku selama ini?

Penyakit itu, kembali menyerangku.

Mungkin aku terlalu lengah karena merasa lega pada kesembuhan sekejap itu. Melakukan hal-hal kurang berguna. Melakukan kebiasaan yang dulu selalu kuhindari, semasa aku sakit.

Kupikir, aku hanya ingin seperti yang lain. Meminum minuman halal yang boleh mereka minum. Memakan makanan halal yang boleh mereka makan. Sedangkan aku lupa, aku berbeda. Aku lupa bahwa meski aku sembuh, harusnya aku tetap menghindarinya.

Seharusnya wajar bukan, jika aku merasa sembuh dan normal lalu diperbolehkan mengalami hal-hal sama seperti teman-temanku.

Tuhan, maafkan aku. :’(

Mungkin aku lalai, selain itu, ya, ini mungkin takdirku. Aku tidak tahu, kapan penyakit ini akan segera benar-benar hilang. Mulai saat ini, aku kembali menjadi diriku beberapa tahun yang lalu. Meminum obat secara rutin. Menghindari hal-hal yang sudah seharusnya untuk kuhindari.

Tuhan, beri aku kesembuhan.

Semoga, dengan perjuanganku ini. Kesembuhan kembali padaku tanpa menjalani operasi untuk kedua kalinya. Tanpa pengobatan yang sebegitu banyaknya seperti dulu.

Tuhan, beri aku kesembuhan.





*Tulisan ini dibuat semata-mata untuk curahan hati penulis. Bukan mengharap belas kasihan.

Tulisan kecil yang diharapkan mampu mengajari kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Mungkin kita terlalu sombong, hingga kadang lupa dan tidak menyadari apa yang sudah Tuhan berikan. Mungkin kita terlalu rakus, untuk menginginkan hal-hal yang belum Tuhan berikan.
Mungkin, Tuhan bukannya tidak memberikan yang kita inginkan, Tuhan hanya menundanya. Dan lebih memilih untuk memberikan yang kita butuhkan. 

Bukankah Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk kita?

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part III



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part III

Dua hari setelah anjuran operasi, akupun benar-benar menjalaninya. Aku menjalani rawat inap untuk memantau kondisiku. Kudengar, orang yang akan dioperasi kondisinya harus normal. Dan selama rawat inap, aku dikabarkan normal dan siap untuk dioperasi.

What? Padahal, rasanya aku belum siap untuk dioperasi.

Hari itupun tiba juga, akhirnya. Di sebuah ruangan asing, dengan orang-orang asing mengelilingiku.
Ya Tuhan, kenapa dokter-dokter muda itu tidak keluar saja dari ruangan ini. Aku merasa tidak yakin pada mereka. Lagipula, bukankah cukup dokter spesialisku dan beberapa orang yang membantunya. Hanya beberapa dan tidak sebanyak itu.

Aku merasa menyedihkan berada di sana.
Cahaya sebuah lampu operasi mengarah padaku. Benda-benda tajam jelas terlihat di sana. Aku akan dioperasi, dan apakah sakit?

Tuhan, aku takut. Aku khawatir jika operasi yang kulakukan ini dalam keadaan sadar. Bukankah seharusnya aku dibiarkan terbius terlebih dahulu?

Namun mereka masih membiarkan pandanganku berkeliling pada ruangan itu. Cukup. Aku tidak ingin melihat terlalu banyak benda tajam lagi. Ruangannya benar-benar dingin. Salah satu dokter muda menyuntikan cairan pada infusku.

Dia terdengar ramah. Aku sempat mengeluh padanya pada suhu yang terlalu dingin di ruangan itu.

***

Hingga akhirnya,
Aku mendengar keluargaku berbisik khawatir. Samar-samar suara mereka membuat aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Badanku sudah tidak merasa dingin lagi. Akan tetapi, justru terasa kaku. Kelopak mataku terlalu berat untuk kubuka.

Aku tidak bisa bergerak. Mataku tidak bisa kubuka. Aku masih mampu mendegar, dan bisa merasakan ketakutan.

Di mana dokter-dokter itu? Aku berada di mana? Ibu, aku takut… Namun ibuku sama sekali tidak mendengar perkataanku. Karena akupun tahu, perkataan itu sama sekali tidak mampu terucap.

***

Bola mataku terasa sakit ketika menerima cahaya, akibat kaget. Entah sejak kapan aku tertidur hingga merasa kaget pada cahaya terang. Baiklah, aku segera menyesuaikan diri. Dan dalam satu menit aku sudah merasa normal pada mataku. Tubuhku juga baik-baik saja.

Keluargaku menyambutku. Mereka terlihat lega dan tenang, membuat aku turut lega.
Ada sesuatu yang berbeda. Tapi tidak sakit.

Aku sembuh?

Menurut dokter, aku sembuh dari sinusitis dan polip namun harus tetap menjalani terapi kekebalan alergi dengan cara disuntik secara berkala (imunoterapi) selama bertahun-tahun, dan rutin.
Jika tidak, penyakit itu bisa kembali.

Tapi aku tidak melakukannya. Terlalu rumit dan memakan biaya mahal. Semoga penyakit itu benar-benar pergi, hilang. Semoga aku benar-benar sembuh, tanpa suntik berkala itu.

“Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan.”
Aamiin

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part II



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part II

Kadang, aku merasa sangat merepotkan keluargaku. Membuat mereka cemas tiap mendengar pernapasanku yang terganggu tiap malam hari. Benar, akhir-akhir itu, penyakitku selalu kambuh jika tubuhku rebahan. Artinya, aku mengalami kesulitan bernapas ketika hendak tidur.


Aku berada di kamar. Merasa mengantuk dan terus berdo’a semoga aku diberi kemudahan untuk segera terlelap. Sesulit inikah untuk bisa tidur nyenyak?


Seringkali, aku merasa iri. Di saat aku masih terbangun, keadaan rumah yang sepi karena penghuninya sudah pada tertidur lebih cepat dariku. Dan lalu aku sadar. Ketika aku masih sibuk dengan rasa kurang bersyukurku, ibuku datang dengan kecemasan menghampiriku di kamar. Mengetahui bahwa putrinya belum terlelap. Tentu saja, aku harus tetap bersyukur. Keluargaku, aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Mereka peduli padaku dan tidak pernah menyalahkanku atas penyakitku.


Bukankah itu hal yang indah, yang ingin ditunjukan Tuhan lewat penyakitku?


***


Hari demi hari, saat sakit itu memuncak dan makin parah. Akhirnya orang tuaku kembali membawaku ke dokter spesialis tht. Alhasil, aku dikabarkan menderita komplikasi sinusitis dan polip. Akibat alergiku yang berkelanjutan itu.


Ya Tuhan, aku yang belum cukup mengerti penyakit itu, benar-benar syok mendengarnya. Apakah itu parah?


Satu-satunya jalan yang akhirnya dipilih oleh orang tuaku adalah,

aku harus dioperasi.

Operasi?

Kata itu sudah cukup membuat air mataku menetes saat itu. Separah itukah?

Sedih, takut, marah bercampur di dalam pikiranku, tentu saja. Namun orang tuaku terus membujukku, dan meyakinkanku bahwa itu operasi ringan. Tidak apa-apa. Demi kebaikanku. Tidak mungkin aku menahan penyakit itu terus, apalagi aku akan masuk ke sekolah menengah atas.


Aku mencoba browsing pengetahuan tentang penyakit itu.

            


Sinusitis adalah penyakit peradangan yang terjadi di daerah sinus. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Gejala Sinusitis kronis bisa berupa nyeri agak ringan sekitar hidung dan mata, atau sering sakit kepala atau sakit daerah gigi, badan sering merasa lemas, hidung sering tersumbat dan sering berair atau meler.


Pengobatan antibiotik diberikan jika ada indikasi bahwa sinusitis itu disebabkan oleh infeksi bakteri atau sudah terinfeksi bakteri. Bila kelainannya sudah menetap, maka biasanya akan dipertimbangkan untuk pengobatan dengan pembedahan atau
operasi.

 

Ya, aku sadar hal itu demi kebaikanku. Hanya saja, aku merasa...

 Aku merasa tidak adil pada penyakit yang dibiarkan, justru makin ngelunjak itu.

Tuhan, ajari aku untuk tetap mensyukuri takdir yang telah Engkau berikan…
 :'(

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part I



Prolog
Akhirnya setelah mengalami perdebatan dengan orang tuaku, akupun menyerah. Aku bukan saja berhasil dibujuk. Aku juga bersedia menjalani rencana tersebut. Aku sudah cukup dewasa, menurut orang tuaku untuk menyadari situasi. Inilah yang terjadi, dan aku harus menerimanya. Harus menyetujui keputusan yang sudah dibuat orang tuaku, demi kebaikanku.
Ya, aku sadar hal itu demi kebaikanku.

Hanya saja, aku merasa...

 ***
Ajari Aku Pandai Bersyukur Part I
Bertahun-tahun aku menahan rasa tidak nyaman itu, sejak (lumayan akhir) sekolah dasar. Tidak parah, menurutku. Tapi cukup mengganggu. Segala aktivitasku tidak dapat kujalani dengan baik. Benar-benar mengusik.
Namun aku cukup menahannya. 

'Besok juga sembuh.' Itulah harapanku setiap harinya. 
Seperti ada sesuatu di situ, sangat sulit untuk pergi. Membuatku kesulitan bernapas. Membuatku ingin mendorongnya sekuatku. Aku tidak merasakan sakit, aku hanya terganggu.

Hal yang kupikir sepele, justru berkelanjutan tahunan. Saat aku duduk di sekolah menengah pertama, aku dikabarkan menderita alergi blablabla (cukup banyak).
Kemudian aku menjalani terapi berkali-kali. Menurut dokter, alergiku terhadap blablabla sudah berkurang, tinggal alergi dingin, debu, dan asap.
Meskipun alergiku berkurang, aku sama sekali tidak merasakan perbedaan terhadap penyakit itu. Seakan terapi medis itu tidak ada hasil.
Apalagi terapi tersebut terus menipiskan biaya keluarga.
Sehingga, aku berhenti menjalani terapi.

Aku pasti kuat. Lagipula, 'besok juga sembuh.' Dan, aku masih tetap hidup meski terganggu penyakit itu. Aku akan mengabaikannya.

***

Ternyata, tidak mudah.

Orang tuakupun mencoba untuk membawaku ke pengobatan alternatif. Aku hampir lupa sudah berapa orang yang kami datangi dengan pengobatannya.
Mulai dari terapi energi dalam, racikan obat alami, jamu tetes, lalu kembali pada obat medis. Mulai dari biaya sumbangan sembako hingga uang ratusan ribu tiap pertemuan. Mulai jarak beberapa meter hingga kilometer. Dan tentunya memakan waktu yang cukup lama.

Apakah aku sembuh dengan perjuangan orang tuaku dan aku, sedemikian rupa?

Kadang, aku merasa sembuh dan normal. Kadang, sesuatu itu kembali mengusik. Apakah itu dapat dibilang sembuh? Apakah itu dapat dibilang perjuangan kami sia-sia?

Tuhan, kenapa penyakit yang tidak cukup parah namun menganggu ini harus sebegini merepotkannya?

arliasworld.blogspot.com