--- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice --- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice ---
RSS
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Thursday, January 1, 2015

New Year Trip


HAPPY NEW YEAR GUYS :)


Apasih yang bikin tahun baru kali ini istimewa?
Let me tell you, guys..
Setelah 18 tahun lamanya gue ngga pernah tahun baruan sama temen-temen. Finally, kesampean juga bisa malem-malem ngitung mundur, liat kembang api, di tengah keramaian, di antara orang-orang yang seru banget -temen2 gue-

Mungkin elo bakal nganggep gue kuper atau semacamnya. Tapi beneran, gue adalah salah satu dari anak yang mesti nurut sama sifat overprotektif seorang ibu.
Dan gue pun ngerayain tahun baruan dengan nonton konser 'di tivi' atau lebih seringnya tidur. Sesekali keluar malem sampe jam sembilan doang. Bisa elo bayangin? Gimana gue bisa ngerayain tahun baru cobaaa...

Lalu sekarang sih, setelah gue tinggal beda kota sama orang tua, gue di Semarang (kuliah) dan ortu di Kudus. Gue emang lebih bebas, sampe bisa tahun baruan. Dan tahun baruannya pun di Jogja. Tapi ngga berarti gue bener-bener bebas. Don't worry... Gue tetep tahu aturan. Gue cuma sekedar jalan-jalan dan langsung pulang. Ngga neko-neko ;)


Dan inilah....
Hasil trip gue bareng my beloved boy and friends



Inilah kami, rombongan mahasiswa yang kurang piknik :D




Gue satu-satunya cewe dari beberapa cowo. But it doesn't matter to us. Lagian, dwiky nya maksa banget supaya gue ikut --'



Gue paling cantik yakan ? Hahaha B)



Now... I'm trying to be cool :p




Tentu saja, ini masih gue yang eksis -_-





Lalu setelah dari kawasan pantai Indrayanti, pantai krakal,dan pantai baron. Malemnya kita ngerayain tahun baru di Malioboro. Awalnya kita udah berjuang buat bisa 'bareng-bareng' di antara ramainya wisatawan. Tapi akhirnya kami terpisah-pisah. Gue sama dwiky hunting tshirt sama accessoris gitu.
Dan beberapa pada milih nongkrong di kopi areng. Yang kedengerannya unik. Tapi gue sm dwiky belum pengen nyoba. Beberapa temen kita juga ada yg milih jalan ke 0 km.
Makanya kita misah.


Lagipula emang susah sih buat desak-desakan dan ttep bareng. Soalnya kita nggak dirantai nyambung juga sih-_-



Then, gue sama dwiky liat kembang api di Malioboro. Sumpah macet abis. Macet sama pejalan kaki yang bahkan uda nggak bisa jalan saking macetnya. Juga ada beberapa motor nyebelin yang pamer asep knalpot.




Untungnya, gue dapet tempat duduk nyaman sambil liat kembang api, ditemani dwiky ({})

Gue juga sempet denger penjual di sana ngomong gini, (hasil translate) "Wah, kembang api di Malioboro paling bagus kali ya. Yang nonton dari mana-mana sampai semacet ini."

Wkwk :D
Aslinya sih, yang bikin tahun baru di Malioboro itu istimewa bukan kembang api yang sangat dicari orang kaya yang dibilang penjual tadi.

Tapi...kebersamaan. :)

Kaya yang aku rasain, ketika aku bisa liat kembang api dan orang-orang di jalanan, dan ada kamu di samping aku. :)
















Thx for
-Dwiki Krisna Hidayat-

Wednesday, June 25, 2014

Akankah Kamu Pulang?

Apa yang membuat pengkhianatan itu terjadi? Sementara aku tak pernah sekalipun melakukan itu padamu. Rasa sakit ketika kesetiaan itu tidak dihargai sangat sulit kututupi. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku untuk seseorang yang belum tentu lebih baik dari aku? Bagaimana bisa kamu memilih pergi ketika perasaanku semakin dalam padamu? Bagaimana bisa kamu lelah akan sikap burukku sementara aku pantang menyerah menerima keburukanmu?

Apakah ini cinta?

Mereka bilang, pasangan yang akan Anniversary bakal mendapat ujian hubungan yang berat?
Kadang kuharap, ini memang ujian. Dan kuharap kita akan lulus dan kembali ke tingkat yang lebih tinggi. Akan tetapi, aku sadar. Untuk apa aku berharap dan berjuang melawan kebencianku sementara kamu tetap ingin terlepas.

Kekecewaan dan rasa sakit yang kamu berikan rupanya belum memuaskanmu. Entah apa yang membuatmu sangat membenciku demi seorang sosok ketiga itu. Sosok ketiga yang bahkan baru kamu kenal. Rasanya ada yang menghantam di jantungku ketika aku harus menyadari perubahan pada dirimu. Apakah tak ada sedikitpun rasa yang masih tertinggal untukku? Sebenci itukah kamu padaku hanya karena aku berusaha memperjuangkanmu dari orang ketiga yang merebutmu dariku?
Aku sadar... Aku sangat bodoh di situasi ini. Tak ada seorangpun yang mendukung perjuanganku yang memperjuangkan seorang pengkhianat. Tentu saja mereka berharap aku mendapatkan seseorang yang lebih menghargaiku. Tentu saja...

Aku rapuh. Aku membenciku seperti kamu membenci diriku. Aku membenciku yang tidak mampu balas membencimu.
Ketika aku memutuskan untuk pertama kalinya memiliki dan dimiliki oleh seorang yang kusayang, haruskah seseakit ini?

Waktu... Kupikir hanya waktu yang dapat mengobati luka yang kamu goreskan. Tapi nyatanya, luka itu terlalu dalam hingga tak juga terobati. Dan waktu, hanya membantuku untuk terbiasa dengan luka itu.

Ketika orang-orang yang lebih peduli dikirimkan oleh Tuhan, aku masih belum mampu melupakan kamu. Namamu masih mendiami satu-satunya rumah di hatiku. Meskipun rumah itu sudah hancur berantakan ditinggal oleh kamu. Dan aku belum siap mengizinkan salah satu dari mereka masuk ketika namamu masih berada di sana. Aku ingin membereskannya sebelum membiarkan dia masuk. Membereskan, seakan aku yakin kamu tidak akan pulang. Iya, mungkin kamu tidak akan pulang karena kamu sudah menemukan tempat yang lebih indah dari rumah. Seandainya kamu tahu, bahwa di sinilah rumahmu dan tempat itu hanya persinggahan.
Tapi mungkin memang seharusnya aku membereskannya segera. Mungkin dia akan menjaga rumah itu lebih baik dari pemilik sebelumnya.

***

Lalu dia berbisik, "Bolehkah aku membantumu membereskannya? Bukankah sesuatu yang dikerjakan bersama akan lebih cepat dan mudah?"

Saturday, January 25, 2014

Dandelion, Angin, dan Kita

Aku adalah satu diantara sebanyak orang di sekelilingmu. Satu orang yang mengamati orang yang bahkan tidak menyadari. Kadang aku berharap kamu menemukanku.
Namun keberadaanku terhalang oleh mereka yang lebih kau hiraukan.
Tapi aku di sini.
Mengamatimu dari kejauhan. Seperti Dandelion.

*


Ya, aku hanya dandelion diantara padang ilalang.
Nyaris tidak terlihat. Nyaris tidak dihiraukan.
Tapi aku ada di sini. Menunggu angin menghampiriku.

Aku tidak semempesona bunga mawar, atau seharum bunga melati. Akupun tidak sebanding dengan bunga matahari yang nampak ceria dan percaya diri.
Tapi aku ada di sini. Menjadi satu dari ribuan jenis bunga di bumi.

Aku hadir di sini.
Menunggu angin menghampiriku.
Ketika waktuku tiba,
Angin akan menjamahku.
Angin yang akan membawaku terbang, terbebas dari segala himpitan.
Dan aku yang sedari dulu mengharapkanmu akan terbebas. Aku akan lepas bersama angin. Angin yang membantuku merasakan keindahan. Sebab saat itulah, mereka akan terpesona olehku.
Aku menyukainya.
Ketika mereka menyadari keindahan natural yang sempat tak mereka hiraukan.
Aku kini di sini. Dandelion yang terbang bersama angin. Kami bersama menciptakan keindahan.
Lantas aku akan kembali ke awal.
Saat angin tak lagi membawaku terbang. Saat ia menjatuhkanku dan tak mau mengajakku menari bersamanya. 'Mungkin' akan tiba saatnya.
Aku akan jatuh. Aku akan kembali ke tempat aku datang.
Lalu aku kembali menjadi Dandelion diantara ilalang. Aku kembali terhimpit. Aku kembali nyaris tak terlihat.
Namun hidup tetap berlanjut.
Di antara ketidakmengertianku, aku bahagia.
Aku tetap menjalani siklusku.
Aku kembali mengagumimu.
Aku kembali iri pada bunga-bunga di taman.
Aku kembali menantikan anginku yang baru.

Dandelion putih yang menantikan anginnya. Bersama angin menciptakan keindahan kembali.

Tapi saat ini, bolehkah.. Untuk saat ini aku hanya menikmati keindahan terbang bersama angin dan melupakan dunia?
Bolehkah aku tidak peduli suatu saat angin 'mungkin' akan menjatuhkanku? Hanya aku bersama angin. Keindahan dan kebebasan.





Monday, November 11, 2013

My Ideal Boyfriend (before i met you)

Seorang guru bahasa inggris di kelas kami pernah meminta kami untuk menceritakan sebuah karangan. Semua murid diberi waktu semaksimal mungkin di atas stage untuk menyebutkan apa saja kriteria pacar idaman kami.

Saya tidak begitu antusias. Pasalnya, terlalu berharap pada kriteria seakan menginginkan pangeran negeri dongeng yang tiba-tiba muncul di hadapan saya. Sehingga, saya hanya menyampaikan beberapa hal yang terlintas di hati dan pikiran saya. Beberapa.


"Okay, guys. I will tell you about my ideal boyfriend's characteristic. 

The important thing is he is a good Muslim. Cause, i hope he will teach me to be more religious. We also can pray together, he is as my 'imam'. Yeah, my special 'imam' Isn't it so sweet?

Then there is about the character of my ideal boyfriend, he is nice, friendly, honest, care, socialize person, loyal, and we can trust each other.  Trust is important to make an everlasting relationship, right?

So, he will not easy to get jealous. And so am i. 

When i do something wrong, he will not just silent and ignore me. But he will talk and advise me. 

He isn't just be my boyfriend. He also be my best friend, and my brother. Respect and protect.

I hope my ideal boyfriend always can make me laugh, though i feel sad or bad mood. He will make me smile to stop my thousand tears. 


When i have a problem, i will share to him so he will listen and give me solutions. When he gets a problem, he will share to me and i will listen though i can't give him a good solutions.  


Okay, that's about the character. How about his physic?

I never demand about his handsomeness or perfectness. 
Just good looking. It's enough. 
He is not too handsome, so when we have a dating, i will not 'minder'. And he is not too bad, so i will not shy to introduce him as my boyfriend.
If i can choose, actually i like a boy with light skin. But if my boyfriend have a dark skin, it's okay.
And then, he is taller than me.  
By the way, I like to lean on his shoulder.

Well, the point is...

All i want is someone who will stay, no matter how hard it is to be with me. He always love me, as who i am."



Haha :D mungkin bahasa inggris saya masih acak acakan. Dan kriteria yang saya sebutkan juga terlalu tinggi. Seakan, kalaupun ada laki-laki seperti itu, akan muncul pertanyaan, apakah dia mau sama saya? apakah saya pantas buat dia? 

Eum, namanya juga karangan. Karangan yang saya harap bisa saya temukan.

Dan kamu...

Saya sudah bertemu kamu.
Saya menemukanmu.
Saya telah memilikmu.

Hi, my beloved boyfriend, have you be my ideal boyfriend?

Whatever, just be your self and be my better boyfriend :) :*

Sunday, September 22, 2013

Queen of Midnight Flower

Bunga Wijaya Kusuma atau nama latinnya adalah Epiphyllum Anguliger berjenis kaktus. Menurut Ensiklopedi Bebas Wikipedia, bunga Wijaya Kusuma ada 2 macam yaitu jenis “keramat” dan jenis “hias” Wijaya Kusuma “keramat” tumbuh di pulau Karang Bandung (Nusa Kambangan) dengan bahasa latin Pisonia Grandis var Silvestris , sedangkan yang jenis hias dikenal sebagai Queen of Night ada juga yang menyebut midnight flower atau dalam bahasa China disebut Keng Hwah





Bunga Wijaya Kusuma bukanlah bunga yang biasa. 

Bunga Wijaya Kusuma termasuk bunga yang langka dan penuh misteri. Ketika mekar, bunganya semerbak mewangi. Tapi, bunga ini tidak bisa diprediksi kapan bakal mekar, bahkan hingga setahun lamanya. 

 

Bunga Wijaya Kusuma hanya akan mekar sesaat dan waktunya pada malam hari saja. Namun keesokan paginya bunga sudah layu kembali. Dan mekarnya kelopak bunga misterius ini tidak dapat diperkirakan waktunya. Belum tentu dalam setahun bunga ini akan mekar. Selain itu, Bunga Wijaya Kusuma tidak tumbuh di sembarang tempat.

Banyak masyarakat di pulau Jawa percaya bahwa siapa saja yang bisa melihat mekarnya bunga Wijaya Kusuma maka maka ia akan mendapatkan rejeki dan kebahagiaan.

Zaman dulu, raja-raja yang bakal naik tahta, diharuskan memetik bunga ini. Bahwa seorang raja yang sanggup memetik bunga Wijaya Kusuma, dipastikan ia adalah seorang yang mentalnya tergembleng dengan baik. Sebab untuk dapat memetik bunga Wijaya Kusuma dalam keadaan mekar, seseorang harus memiliki kesabaran tinggi. Pada jaman raja-raja Mataram dulu, untuk bisa memperoleh bunga Wijayakusumah ini harus memenuhi beberapa persyaratan.

Diantaranya jalan kaki dari Kartosura (Solo) lalu menyusuri Boyolali, Magelang, Temanggung, Cilacap dan kemudian menyeberang ke Pulau Majethi. Bunga yang berhasil dipetik dimasukkan dalam bokor kencana dan selama perjalanan pulang. Para abdi dalem yang mengawal tidak boleh membuka. Hanya raja yang boleh membuka untuk memastikan bunga itu sungguhan. Kisah seperti ini berlangsung hingga tahun 1894 di saat raja Mataram dijabat Sri Susuhunan X.
 
Konon Presiden Soekarno pun memiliki ajian bunga Wijaya Kusuma.  (read: Bunga Wijaya Kusuma sebagai bunga idaman para raja)


Wi mengandung arti menguasai segala ilmu, ilmu tata lahir dan bathin. Jaya berarti menang, ibarat unggul tanpa ngasorake, teguh tanpa ,meremehkan asih tanpa pamrih.  
Kusuma artinya tedak turuning Ratu, maha mbeg utama berbudi luhur, pepindaning rembesing madu, (artinya sebagai keturunan seorang raja harus memiliki watak utama, berbudi luhur, ibarat sari dari madu). 

Simbolisme dari wijaya kusuma ini diharapkan menimbulkan perasaan tentram dan damai, bikin terang hati manusia, menjunjung tinggi perilaku asih, paromomarta, mengandung ajaran agidang, adigung, adiguna, tidak mementingkan diri sendiri, tidak sewenang-wenang ibarat paring payung wong kang kodanan, paring teken wong kaluyon, paring sandang wong kawudan, paring pangan wong kaluwen.


Untuk kesempurnaan ini harus disertai lelaku atau tirakat secara teratur, serta selalu mohon kepada Yang Maha Kuasa agar jalan hidup ini diberkahi dan dituntun kearah karahayon. Demikianlah kira-kira ciri-ciri orang yang akan atau bisa mendapatkan Bunga Wijaya Kusuma.
 

Dan terinspirasi dari bunga misterius inilah, almarhum kakek saya menyisipkan nama Kusuma pada nama lengkap saya. Mungkin, beliau berharap jodoh saya (seorang yang mampu memetik hati saya) adalah seorang yang penuh kesabaran yang tinggi dan berwatak baik dan berciri baik layak raja yang mampu mendapatkan bunga Wijaya Kusuma.

Namun, tentunya beliau mengharapkan saya lebih. Saya harus lebih indah dibanding bunga tersebut. Lebih diharapkan oleh orang-orang terbaik, lebih memancarkan pesona dan semerbak harum. Lebih kuat dan selalu tegar.



Written by: Lia Ayu Kusumaningrum

Saturday, September 7, 2013

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part IV



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part IV

Namun hari ini, sekitar dua tahun lebih setelah operasi, aku merasakan kecemasan pada diriku. Aku merasa melakukan banyak kesalahan selama masa sembuhku itu.

Rasa mengganggu yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.

Ya Tuhan :"(((

Apakah itu benar-benar kembali? Aku takut. Aku tidak mau mengalami pengalaman buruk itu lagi. Apakah ini karena aku tidak menjalani suntik kekebalan itu? Atau apakah ini karma karena aku tidak pandai bersyukur atas kesembuhanku selama ini?

Penyakit itu, kembali menyerangku.

Mungkin aku terlalu lengah karena merasa lega pada kesembuhan sekejap itu. Melakukan hal-hal kurang berguna. Melakukan kebiasaan yang dulu selalu kuhindari, semasa aku sakit.

Kupikir, aku hanya ingin seperti yang lain. Meminum minuman halal yang boleh mereka minum. Memakan makanan halal yang boleh mereka makan. Sedangkan aku lupa, aku berbeda. Aku lupa bahwa meski aku sembuh, harusnya aku tetap menghindarinya.

Seharusnya wajar bukan, jika aku merasa sembuh dan normal lalu diperbolehkan mengalami hal-hal sama seperti teman-temanku.

Tuhan, maafkan aku. :’(

Mungkin aku lalai, selain itu, ya, ini mungkin takdirku. Aku tidak tahu, kapan penyakit ini akan segera benar-benar hilang. Mulai saat ini, aku kembali menjadi diriku beberapa tahun yang lalu. Meminum obat secara rutin. Menghindari hal-hal yang sudah seharusnya untuk kuhindari.

Tuhan, beri aku kesembuhan.

Semoga, dengan perjuanganku ini. Kesembuhan kembali padaku tanpa menjalani operasi untuk kedua kalinya. Tanpa pengobatan yang sebegitu banyaknya seperti dulu.

Tuhan, beri aku kesembuhan.





*Tulisan ini dibuat semata-mata untuk curahan hati penulis. Bukan mengharap belas kasihan.

Tulisan kecil yang diharapkan mampu mengajari kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Mungkin kita terlalu sombong, hingga kadang lupa dan tidak menyadari apa yang sudah Tuhan berikan. Mungkin kita terlalu rakus, untuk menginginkan hal-hal yang belum Tuhan berikan.
Mungkin, Tuhan bukannya tidak memberikan yang kita inginkan, Tuhan hanya menundanya. Dan lebih memilih untuk memberikan yang kita butuhkan. 

Bukankah Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk kita?

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part III



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part III

Dua hari setelah anjuran operasi, akupun benar-benar menjalaninya. Aku menjalani rawat inap untuk memantau kondisiku. Kudengar, orang yang akan dioperasi kondisinya harus normal. Dan selama rawat inap, aku dikabarkan normal dan siap untuk dioperasi.

What? Padahal, rasanya aku belum siap untuk dioperasi.

Hari itupun tiba juga, akhirnya. Di sebuah ruangan asing, dengan orang-orang asing mengelilingiku.
Ya Tuhan, kenapa dokter-dokter muda itu tidak keluar saja dari ruangan ini. Aku merasa tidak yakin pada mereka. Lagipula, bukankah cukup dokter spesialisku dan beberapa orang yang membantunya. Hanya beberapa dan tidak sebanyak itu.

Aku merasa menyedihkan berada di sana.
Cahaya sebuah lampu operasi mengarah padaku. Benda-benda tajam jelas terlihat di sana. Aku akan dioperasi, dan apakah sakit?

Tuhan, aku takut. Aku khawatir jika operasi yang kulakukan ini dalam keadaan sadar. Bukankah seharusnya aku dibiarkan terbius terlebih dahulu?

Namun mereka masih membiarkan pandanganku berkeliling pada ruangan itu. Cukup. Aku tidak ingin melihat terlalu banyak benda tajam lagi. Ruangannya benar-benar dingin. Salah satu dokter muda menyuntikan cairan pada infusku.

Dia terdengar ramah. Aku sempat mengeluh padanya pada suhu yang terlalu dingin di ruangan itu.

***

Hingga akhirnya,
Aku mendengar keluargaku berbisik khawatir. Samar-samar suara mereka membuat aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Badanku sudah tidak merasa dingin lagi. Akan tetapi, justru terasa kaku. Kelopak mataku terlalu berat untuk kubuka.

Aku tidak bisa bergerak. Mataku tidak bisa kubuka. Aku masih mampu mendegar, dan bisa merasakan ketakutan.

Di mana dokter-dokter itu? Aku berada di mana? Ibu, aku takut… Namun ibuku sama sekali tidak mendengar perkataanku. Karena akupun tahu, perkataan itu sama sekali tidak mampu terucap.

***

Bola mataku terasa sakit ketika menerima cahaya, akibat kaget. Entah sejak kapan aku tertidur hingga merasa kaget pada cahaya terang. Baiklah, aku segera menyesuaikan diri. Dan dalam satu menit aku sudah merasa normal pada mataku. Tubuhku juga baik-baik saja.

Keluargaku menyambutku. Mereka terlihat lega dan tenang, membuat aku turut lega.
Ada sesuatu yang berbeda. Tapi tidak sakit.

Aku sembuh?

Menurut dokter, aku sembuh dari sinusitis dan polip namun harus tetap menjalani terapi kekebalan alergi dengan cara disuntik secara berkala (imunoterapi) selama bertahun-tahun, dan rutin.
Jika tidak, penyakit itu bisa kembali.

Tapi aku tidak melakukannya. Terlalu rumit dan memakan biaya mahal. Semoga penyakit itu benar-benar pergi, hilang. Semoga aku benar-benar sembuh, tanpa suntik berkala itu.

“Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan.”
Aamiin

Ajari Aku Pandai Bersyukur Part II



Ajari Aku Pandai Bersyukur Part II

Kadang, aku merasa sangat merepotkan keluargaku. Membuat mereka cemas tiap mendengar pernapasanku yang terganggu tiap malam hari. Benar, akhir-akhir itu, penyakitku selalu kambuh jika tubuhku rebahan. Artinya, aku mengalami kesulitan bernapas ketika hendak tidur.


Aku berada di kamar. Merasa mengantuk dan terus berdo’a semoga aku diberi kemudahan untuk segera terlelap. Sesulit inikah untuk bisa tidur nyenyak?


Seringkali, aku merasa iri. Di saat aku masih terbangun, keadaan rumah yang sepi karena penghuninya sudah pada tertidur lebih cepat dariku. Dan lalu aku sadar. Ketika aku masih sibuk dengan rasa kurang bersyukurku, ibuku datang dengan kecemasan menghampiriku di kamar. Mengetahui bahwa putrinya belum terlelap. Tentu saja, aku harus tetap bersyukur. Keluargaku, aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Mereka peduli padaku dan tidak pernah menyalahkanku atas penyakitku.


Bukankah itu hal yang indah, yang ingin ditunjukan Tuhan lewat penyakitku?


***


Hari demi hari, saat sakit itu memuncak dan makin parah. Akhirnya orang tuaku kembali membawaku ke dokter spesialis tht. Alhasil, aku dikabarkan menderita komplikasi sinusitis dan polip. Akibat alergiku yang berkelanjutan itu.


Ya Tuhan, aku yang belum cukup mengerti penyakit itu, benar-benar syok mendengarnya. Apakah itu parah?


Satu-satunya jalan yang akhirnya dipilih oleh orang tuaku adalah,

aku harus dioperasi.

Operasi?

Kata itu sudah cukup membuat air mataku menetes saat itu. Separah itukah?

Sedih, takut, marah bercampur di dalam pikiranku, tentu saja. Namun orang tuaku terus membujukku, dan meyakinkanku bahwa itu operasi ringan. Tidak apa-apa. Demi kebaikanku. Tidak mungkin aku menahan penyakit itu terus, apalagi aku akan masuk ke sekolah menengah atas.


Aku mencoba browsing pengetahuan tentang penyakit itu.

            


Sinusitis adalah penyakit peradangan yang terjadi di daerah sinus. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Gejala Sinusitis kronis bisa berupa nyeri agak ringan sekitar hidung dan mata, atau sering sakit kepala atau sakit daerah gigi, badan sering merasa lemas, hidung sering tersumbat dan sering berair atau meler.


Pengobatan antibiotik diberikan jika ada indikasi bahwa sinusitis itu disebabkan oleh infeksi bakteri atau sudah terinfeksi bakteri. Bila kelainannya sudah menetap, maka biasanya akan dipertimbangkan untuk pengobatan dengan pembedahan atau
operasi.

 

Ya, aku sadar hal itu demi kebaikanku. Hanya saja, aku merasa...

 Aku merasa tidak adil pada penyakit yang dibiarkan, justru makin ngelunjak itu.

Tuhan, ajari aku untuk tetap mensyukuri takdir yang telah Engkau berikan…
 :'(