--- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice --- contact me: liaayuka@gmail.com --- follow me: @violettice ---
RSS
Showing posts with label Bunny. Show all posts
Showing posts with label Bunny. Show all posts

Friday, May 17, 2013

Sumpah! Gue Kangen Lippo (Lippo Part 5)

Oke, ini masih lanjutan cerita serial Lippo.
Di part sebelumnya,
Perpisahan dua kelinci jenis lop yang mengenaskan.
Cinta Lippo pada Loppi yang berujung kematian.
Ini dia, lanjutan ceritanya...
Keep reading, guys...



Gue tahu Lippo bener-bener remuk dan hancur hatinya.
Biarin cintanya menunggu kepastian darinya.
Biarin cintanya resah, gundah, galau, sakit, lelah, karena dia.
Biarin cintanya merelakan nyawa.
Rasa bersalah dan nyesel, itu kata Lippo ke gue.

Dan kini, pas gue nawarin dia...
Apa gue cariin betina baru atau gimana?
Dia justru nolak.
Cintanya cuma satu. Dan itu sudah terkubur bersama jasad Loppi.
Dia bilang dia mau sendiri aja.
Biarin rasa dan bayang-bayang itu pergi dulu.

So, I just let him.
Gue terus nyemangatin dia supaya move on.
Tapi dia udah terlalu rapuh dan hancur.
Lippo jadi pendiam. Suka melamun dan merenung.
Dalam tidurnya, dia masih memanggil nama Loppi.

Duh, dia jadi kelinci setia amat sih... :')
Loppi pasti bangga sama lo, Lippo.
Dan dia pasti berharap lo kembali jalanin hidup ini...


Lippo udah berumur setahun lebih...
Dan dia masih aja sendiri dalam kesepiannya.
Gue jadi ikutan pilu liat semua ini.
Maka,
gue dan keluargapun bermusyawarah.
Apakah jalan terbaik untuk kehidupan Lippo?
Kita kuwatir Lippo bakal frustasi dan stres.

So, inilah keputusan bokap gue.

Lippo harus memulai kehidupan barunya.
Meninggalkan kenangan pahit di ruangan itu.
Berpisah denganku yang mungkin berbayang cinta Loppi.
Ia harus melanjutkan hidup dan hidup itu baru.

Maka, tibalah perpisahan gue sama Lippo.
Di bulan Maret itu.
Gue ngerasa nggak rela buat nglepasin Lippo.
Gue pengen dia tetep di sini.
Gue pengen Lippo tetep nemenin gue.
Tapi gue sadar, gue nggak boleh egois.
Ini semua demi kebaikan Lippo.

"Gue bahagia kalo dia juga bahagia. Dan membiarkannya pergi adalah salah satu dari kebahagiaan untuk kebaikannya."

So, after say good bye and gave him a big hug...
-----------Gue nggak pernah liat dia lagi-----------------




Entah di mana Lippo saat ini,
Udah punya berapa keturunan,
Siapa kekasih barunya,
Apakah pemiliknya sebaik gue,
Apakah namanya mash Lippo,
Apakah dia masih inget gue,
Dan apakah Lippo masih mengenang Loppi, cinta pertamanya.

Gue nggak tahu..
Meskipun gue pengen banget tahu..
Tapi sayangnya, gue nggak tahu...




[BASED ON TRUE STORY]
dengan sedikit bumbu drama dan komedi

Penantian dan Pengorbanan (Lippo Part 4)

Lanjut deh ceritain Lippo dan Loppi.
Sebelumnya udah dibaca kan part 1 sampe 3 nya?

Well, part kali ini...
Masih tentang kisah cinta sepasang kelinci jenis Lop.




Jadi, di masa-masa inilah kesetiaan Loppi harus diuji.
Dia menunggu sebuah kepastian cinta dari Lippo.
Mencoba setia.
Gue sampe terharu dan bangga karena mengerti kesetiaan cinta Loppi.

Waktu terus berlalu.
Kadang Loppi dilanda galau,
benarkah Lippo mencintainya?
Loppi benar-benar khawatir jika ternyata Lippo cuma mempermainkannya.
Maka, gue pun ikut turun tangan memberi dukungan.
Pas Loppi curhat sama gue,
Gue berusaha sekuat tenaga dan asa supaya bikin Loppi postv-thinking aja.
Gue coba yakinin dia,
Kalo Lippo sendirian aja di ruangannya, sedang menunggu waktu.
Tidak ada cinta lain,
Hanya untuk Loppi, seekor.

Nah, Loppi pun mulai semangat dan setiaaa...
Berminggu-minggu cinta mereka pending.
Hingga tiba saat tragis bin mengerikan bin ngenes itu.

Waktu itu,
di pagi buta, nyokap bangunin gue.
Gue masih ngantuk,
Penghuni rumah memandang gue iba.
Seperti tatapan mengasihani.
Mungkin karena gue masih pengen tidur, tapi harus sekolah.

Setelah gue menyadarkan diri sepenuhnya.
Dan sudah segar akibat siraman air bak mandi.
Gue pun dipaksa menghadapi fakta super drama!

NO!!!!
Gue melihat dengan mata kepala gue sendiri,
Loppi terbujur lemas, penuh darah.
OMG!!! What's going on? Please, someone tell me!

Gue menatap anggota keluarga gue satu persatu,
meminta penjelasan.

"Apa yang terjadi padanya?" Rintih gue.
Bokap berusaha nenangin gue, "Sepertinya dia jatuh dari ruangannya yang tinggi itu. Seseorang lupa mengunci pintu ruangannya."

Gue coba nginget-inget terakhir gue jenguk Loppi,
Pas dia curhat ke gue,
Dia bilang dia kangen berat sama Lippo.
Karena mereka terpisahkan ruangan.
Tapi Lippo sedang butuh waktu untuk menyendiri sebelum dipersatukan.
Setelah denger curhatan Loppi, gue pergi.
Tapi sebelum gue pergi, gue udah ngunci pintu ruangan Loppi.
Gue yakin.
Beneran.
Iyaa, gue udah ngunci kok...
Seinget gue gitu..
Kayaknya...

Duh..
"Tapi kenapa jatuh sampe separah itu?" Tanya gue lagi,
tak terima pada kenyataan bahwa Loppi sedang berjuang melewati ajalnya.
"Sejatuhnya dia, rupanya dia justru menjadi korban tikus raksasa."
OMG! betapa tragis dan kejamnyaaa...
Huhuuu..
Gue nangis deh pokoknyaa...

Cinta Loppi, kesetiaan Loppi, dan kerinduan Loppi..
Akhirnya berakhir dengan pengorbanan...
Oh Loppi,
Betapa gue kagum sama lo...
Huhu,
Gue nggak tahu, segimana kacaunya hati Lippo mengetahui kematian Loppi.

RIP. Loppi
(When she try to run away and looking for Lippo's love)
:*




[BASED ON TRUE STORY]
dengan sedikit bumbu drama dan komedi

Hanya Bisa Menunggu (Lippo Part 3)

*Take a deep breath*
 Gue lanjut yaa ceritainnya...
ini part ketiga, rupanya.
Keep reading, guys. ;) 




Gue udah nasehatin abang gue berkali-kali, waktu itu.
 Gue tahu perasaan dia pasti hancur banget.
Ditinggalin yang pasling dia sayang.
Tapi gimana lagi?
"Life must be go on, mas!" Teriak gue di titik terdekat dengan telinganya.
Dan berkat mantra gur itu diapun bangkit dari duduknya.
Lalu melanjutkan kehidupannya kembali.



Berbulan-bulan berikutnya.
Sepasang kelinci Lop gue, Lippo dan Loppi.
Mereka sepertinya siap merajut cinta.
Mengukir rasa di hati mereka masing-masing.
Berjanji untuk setia satu untuk selamanya.
Bukan seperti kelinci lain yang cintanya bercabang.

Soalnya bagi mereka dunia ini milik Lippo dan Loppi,  saja.
Tak ada yang lain. Tak kan pernah ada.
Hanya mereka. Berdua saja.
Lo tau kan sebabnya apa?
Kalo lo tahu, berarti lo termasuk golongan cerdas.

Jadi...
Berhubung mereka beranjak remaja atau dewasa untuk kalangan kelinci...

Merekapun udah di pisah ruangannya.
Emang harus gitu, kata bokap gue. Soalnya bukan muhrim.
Sesekali disatuin,
dan mereka langsung memadu kasih.
Hehe
Lagian mereka udah diresmiin hubungannya kok.
Jadi bukan zina.

Maka, merekapun melakukan kegiatan tersebut.

Tapi gue nunggu berminggu-minggu,
belum juga diketahui kehamilan Loppi.
Padahal gue nggak sabar menimang bayi kelinci.
Eh, bukan.
Gue nggak berani menimang bayi kelinci.
Gue mungkin cuma berdoa dan menyaksikan bayi-bayi tersebut lahir.

Tapi kata bokap gue,
Loppi belum juga hamil.
Duhh! Apa masih terlalu muda ya?
Kalo nggak salah usia mereka sekitar... gue lupa... Belum ada setahun sih memang...
Wah, hubungan dini dong? :o


Gue langsung browsing tentang hubungan cinta pada kelinci.
Kata eyang google sih..
Bagi si betina udah masa kawin, kalo si jantan belum matang tuh.
Nahloh...
Sepertinya Loppi harus menanti cinta Lippo.

Lippo: Maafkan aku, bukan maksudku php-in kamu.
Loppi: Terus? Please, jangan gantungin aku.
Lippo: Enggak kok, aku cuma belum siap. Aku nunggu saat yang tepat.
Loppi: Baiklah, aku akan tetap setia kok nungguin kamu.
Lippo: (Mendekap Loppi di pelukannya)
Ecieeeehhhh :3 :*



[BASED ON TRUE STORY]
dengan sedikit bumbu drama dan komedi

Pilunya Perasaan Abang Gue (Lippo Part 2)

Oke, gue bakal lanjut ceritain Lippo dan kawan kawan.
Lo udah baca part sebelumnya kan?
Harus dibaca biar nggak bingung. Biar asikk juga...
Dan biar ngehargain susah payah gue juga, yang nulis ini..
:)) Makasih yaa udah setia baca...




Nah...
Berbulan-bulan kebersamaan kami.
Gue-Lippo-Loppi-Dan kelinci dutch yang blm gue kasih nama.

Gue makin sayang dalam membelai mereka.
Gue tetep rajin ngunjungin mereka.
Bawain wortel , kangkung, dan makanan lain yang layak dan higinis.
Sehat dan bersih itu nomer satu buat mereka.
Kan, mereka itu harus jadi peliharaan yang elit dan berkelas gitu.


Namunnn, nampaknya ruangan mereka makin kotor.
Lo taulah,
kotoran kelinci itu segimana banyaknyaaa..
Aih, jijik gue.
Untungnya, abang gue baik banget.
Gue dibantuin bersihin tuh ruangan.
Sebenernya bukan dibantuin,
soalnya emang dia yang kerja sendiri dan gue...
Gue ngapain ya? Gue lupa.

Waktu terus berlalu,
Suka duka...
Sehat sakit...
Bosen sibuk...
Kita lewatin bareng-bareng.
Hingga saat duka itupun tiba.

*Ambil tisu* *Nangis mengenang semuanya*
Oke,
Meski gue nggak tega buat flash back kejadian pilu itu.
Tapi gue harus.
Gue tau gue kuat kok.
Gue bisa ngadepin semua ini.
Gue nggak apa-apa kok buat kembali ngingat kepiluan.
Meski gue rasanya sakittt banget harus kembali ke masa sulit itu.
Lo taulah,
Kadang masa lalu itu benar-benar menyakitkan sampe kita takut untuk menoleh padanya.
Tapi, lo tetep harus menoleh ke masa lalu sebentar,
dan jangan keterusan. Kembali tatap masa depan.
Ambil pandangan lurus dan melangkahlah!
-rupanya, gue ngelantur kemana-mana-


Jadi,
hari itu...
*Ambil tisu lagi*
Salah satu penghuni yang gue sayang meninggalkan kami.
Huhu :'(
Tapi gue bersyukur sih.

Eh, jangan berhenti baca dan ngejudge gue kejem please.
Baca sepenggal doang emang cuma bisa bikin neg-think.
Makanya lo harus lanjut baca,
jadi jangan nuduh gue yang macem-macem.
 -______-


Nih yaaa gue tuh bersyukur karena bukan Lippo-Loppi yang ninggalin gue.

Pagi itu, pas gue jenguk dia...
Dia udah sekarat gitu di ruangannya.
Bokap gue langsung bawa dia ke ruang isolasi.
Ruang isolasi itu yaa rumah gue gitu.
Maksudnya sekedar dipisahin dari kelinci lain.
Bukannya dikasih pengobatan lebih. Hehe
Hla gimana?
Obat buat kelinci yang hampir sekarat mana kita punya?
Gejala sekarat dia,
yang gue inget...
Tubuh utuh, tapi menggigil,
Gerakan gak karuan,
Sesekali kayak jantungan gitu.
Ngeri kan yaa? :"(

Dan gue bener-bener ga tega ngelihat saat-saat itu.

Oh My God, di hadapan gue.
Gue menyaksikan detik-detik terakhirnya.
Asli, gue nangis guys saat itu juga.
Gue kan hatinya emang lembutt..

Gue lebih terpukul saat nyoba ngerasain yang abang gue rasakan.
Soalnya, tuh kelinci kan yang favoritnya abang gue.
Iyaaa, karena gue lebih manjain dan merhatiin Lippo-Loppi,
Jadi abang gue mutusin buat lebih peduliin kelinci dutch yang gue anaktiri-kan itu.
Hehe

Gue mutusin buat ngasih perpisahan terindah dan teromantis buat mereka.
Maka, gue biarin abang gue aja yang nguburin.
Mungkin dia bakal lebih tenang kalo cuman dia sendiri yang menghadiri pemakaman.
Bukannya gue nggak sayang,
Gue cuman nggak tega aja nyaksiin kelinci yang udah nemenin gue lama,
Tiba-tiba harus terbenam tanah.
Huhu

Jadi pas abang gue sms...

Lo ikut takziyah nggak nih?
Gue nggak sanggup liatnya. Gausah nunggu gue pulang sekolah. Langsung lo makamin aja, mas. Makin cepet, makin tenang dia jiwanya.

Di sekolah gue bener-bener ga konsen mikirin arwah kelinci abang gue itu.
Yang bisa gue lakuin cuma berdo'a dan ngenang dia.
Semoga lo diterima di sisiNya aja deh...
Jadi kelinci yang baik yaa di sana...
Jangan pipis sembarangan... :*

RIP: Kelinci dutch abang gue (Unnamed)


[BASED ON TRUE STORY]
dengan sedikit bumbu drama dan komedi

Pertemuan Terindah Kami (Lippo Part 1)

Hai readers..
Hati gue lagi gundah gulana nih,
Gue galau abis hari ini.
Aih, ini semua gegara gue lagi kangeeennn banget.

Iyah gue lagi ngangenin seseekor.
Bukan berarti gue cuma kangen ekornya loh,
tapi gue kangen all about it.
(Bakal gue ceritain dalam beberapa part.)

Part pertama-----



Namanya Lippo.
Lahir di kandang induknya bersama beberapa saudaranya yang tak dikenali.
Tanggal lahirnya gue nggak tahu kapan,
soalnya gue nggak ikut menghadiri persalinannya.
Meskipun sebenernya dulu gue pengen banget nyemangatin induknya,
gue kan berjiwa kasih sayang banget gitu.
Jadi Lippo dan saudaranya bisa lahir dengan normal tanpa kekurangan.

Tapi sepertinya takdir berkata lain,
saat persalinan terjadi,
gue bahkan masih terpisahkan dan belum mengenal Lippo dan induknya sama sekali.

Well, gue akhirnya di pertemukan di sebuah tempat.
Gue jarang ke sana,
dan saat gue ke sana. Akhirnya gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama Lippo.
Gue langsung maksa bokap buat bebasin Lippo.
Iya, Lippo lagi disandera.
Dan Lippo segera sujud syukur, saat dia akhirnya dibebaskan oleh gue dan bokap.
Lo bisa imajinasikan dikit, kayak di film barat yang kategori action.
Nah, kurang lebih kejadian pembebasan Lippo kayak gitu lah.

Akhirnya, setelah bokap merogoh sakunya dikit,
kami bisa membebaskan Lippo, dan... kekasihnya.
That's right, Lippo sudah memiliki pasangan hidup, namanya Loppi.
Gue bisa melihat tanda cinta dari mata Lippo kepada Loppi.
Penuh arti, dan sangat romantis.
Dan gue pun tahu kalau Loppi juga cinta mati pada Lippo.
Seketika,
gue nangis terharu.
Hati gue terlalu lembut, sob.

Sampe rumah,
gue menempatkan Lippo dan Loppi di ruangannya.
Belum bisa disebut kamar pengantin.
Soalnya menurut sang penyandera,
umur mereka baru 2-3 bulan.
Iyaa, masih kecil. Tapi bukan baby.
Well, mereka itu hewan kelinci.

Oh iya, gue lupa ngasih tahu,
Pertemuan gue sama Lippo-Loppi itu sehari sebelum ulang tahun gue.
Jadi di hari ulang tahun gue (7 Oktober)
Gue dikasih hadiah buat meluk dan membelai sepasang kekasih unyuuuu...
Bukan dikasih hadiah sih sebenernya,
Tapi gue minta . Iya gue mohon-mohon gitu sama bokap buat dihadiahin kelinci aja pas ultah.
Bokap awalnya gak setuju.
Soalnya gue udah banyak menghilangkan nyawa-nyawa kelinci peliharaan gue.
Sebenernya bukan gue yang salah.
Tapi emang, melihara kelinci tuh susahnya minta ampuuunnnn.....
Dan sekarang aja cuma tinggal satu.

Berhubung bokap sayang banget sama gue..
Yaaa, gue tetep dikadoin kelinci sepasang, jenis Lop, guys.
Itulohh yang bulunya halusss melebihi anggora,
Trus kalo udah gede, telinganya turun gitu kayak hewan anjing.

Tinggalah mereka bertiga. Soalnya, di ruangan tersebut sudah di huni oleh satu ekor jenis dutch.Gapapa kan bertiga?
Lagian kan mereka masih tergolong anak-anak,
jadi makin rame malah makin seru dong ya? :D

Kelanjutan kisah kebersamaan kami?
Check next post. ;)

[BASED ON TRUE STORY]
dengan sedikit bumbu drama dan komedi